E-commerce vs Social Commerce, Pilih Mana?
Berikut Cara Memaksimalkan Peran Admin Online Shop
Januari 30, 2021
Memutus Vicious Cycle untuk Tingkatkan Bisnis Lokal Indonesia
Februari 9, 2021

E-commerce vs Social Commerce, Pilih Mana?

Pertumbuhan ekonomi digital meningkat pesat pada tahun 2020. Hal ini tidak lain karena adanya pandemi virus covid-19 yang membuat aktivitas manusia di luar ruangan menjadi sangat terbatas. Belanja secara online menjadi pilihan yang paling efektif untuk mendapatkan barang yang diinginkan bahkan juga dimanfaatkan untuk membeli kebutuhan sehari-hari.

E-Commerce vs Social Commerce

Istilah E-Commerce dan Social Commerce menjadi lebih akrab terdengar di telinga kita dalam satu tahun terakhir. Nah, buat kamu yang belum tahu perbedaannya, berikut penjelasannya:
E-Commerce adalah toko online (website) milik pribadi ataupun online marketplace yang memfasilitasi pemasaran, transaksi pembelian sampai pada pengiriman dalam satu tempat. Baik itu dalam website pribadi maupun online marketplace milik pihak ketiga yang biasanya berbentuk aplikasi seperti Tokopedia, Bukalapak, Lazada, Blibli, Shopee Indonesia dan lain sebagainya.
Social Commerce adalah berbagai platform media sosial yang secara sengaja digunakan oleh pengguna dengan maksud untuk berjualan. Contohnya, berbagai online shop yang ada di Instagram, Facebook, Twitter ataupun aplikasi messenger seperti WhatsApp atau Line.
Kedua teknologi digital tersebut mempunyai daya tarik tersendiri. Ada yang memang lebih suka berbelanja di media sosial karena lebih mudah berkomunikasi dengan penjual. Adapula yang senang berbelanja langsung di e-commerce karena lebih praktis dan cenderung lebih mudah dipercaya. Oleh karena itu, sebagian besar pebisnis saat ini menggunakan kedua teknologi tersebut untuk berjualan online.

Let's Talk About It

Talkabot dalam Let’s Talkabot It, berbincang dengan Ananda Oktanevalda, owner dari @scarfby.lava. Ananda berbagi cerita tentang kisahnya bisa survive di era pandemi dengan berbisnis online.
Dimulai dari bulan Mei, untuk mengisi kekosongan aktivitas di tengah pandemi, ia dan rekannya Nabila mencoba membuka bisnis woman clothing online. Keinginannya dalam berbisnis didukung oleh kemudahan teknologi dalam berjualan saat ini. Ia mengaku ingin memanfaatkan tren berbelanja online dengan berbagai platform jualan yang sudah banyak tersedia.
“Aku coba berbisnis karena emang udah disediain wadah yang gampang dan simpel. Gak ada salahnya buat kita coba. Dibanding kita mengeluh mending memanfaatkan fasilitas yang ada,” ucap Ananda.
Saat ini, ia menggunakan 4 platform untuk berjualan yaitu melalui Instagram, TikTok, WhatsApp dan Shopee Indonesia. Menurutnya, ke-4 platform tersebut cukup efektif untuk memasarkan produknya.
Selain jangkauannya yang luas, penjual juga bisa lebih leluasa melakukan pemasaran lewat katalog yang lengkap dengan detail informasi mengenai produk. Penjual juga bisa memanfaatkan berbagai program promosi yang sudah disediakan oleh pihak ketiga. Sampai saat ini, platform yang paling sering digunakan oleh pelanggan @scarfby.lava adalah melalui aplikasi Shopee.
“Dari platform itu, orderan masuk lebih banyak dari Shopee soalnya tinggal check out. Itu salah satu alasannya jadi mereka tinggal check out, buat pesanan dan langsung kirim,”
Menurut Ananda, kebiasaan orang untuk membuka aplikasi marketplace juga semakin meningkat. Mereka bisa sangat betah berlama-lama untuk mencari barang yang diinginkan kemudian memasukannya ke dalam keranjang. Meskipun memang tidak langsung di check out.

Strategi Marketing E-commerce vs Social Commerce

Sampai saat ini untuk strategi marketing, Scarf by Lava sudah melakukan 3 kali endorse pada selebgram yang dianggap berpotensi naik daun. Pertama-tama untuk mengetahuinya Ananda menggunakan website Social Blade untuk mengukur insight dari akun selebgram yang akan diajak kerja sama.

“Yang diutamain selebgram itu bisa nge-engaged konsumen. Bukan masalah followers banyak tapi mereka yang bisa nge-influence konsumen buat beli produk kita,” jelas Nanda.

Selain endorse, dia juga memanfaatkan pembuatan konten yang menarik di Instagram termasuk dalam TikTok yang sekarang tengah digemari oleh pengguna smartphone. Sementara itu, untuk strategi di e-commerce dalam hal ini marketplace, Ananda memanfaatkan program-program yang diadakan oleh pihak Shopee. Seperti halnya program flash sale, program tanggal kembar serta gratis ongkir.
“Ada shopee 2.2, kita ikutan aja. Turunin harga sedikit. Biasanya kalau ada coretan harga tuh, orang-orang suka tertarik dan penasaran terus buru-buru check out”,
Selebihnya, Ananda merasa sangat diuntungkan dengan teknologi bisnis digital di masa sekarang. Kedepannya ia akan mempertahankan bisnis online dan mencoba berbagai peluang yang tersedia. Ia berpesan kepada brand lokal yang juga sedang survive dengan bisnisnya untuk selalu melihat peluang.

“Kita harus pintar cari kesempatan dalam kesempitan, harus melihat peluang yang ada. Social media kan udah jadi kebutuhan kita. Kita harus bisa baca peluang. Kaya di Instagram, apa sih yang lagi orang butuhin di Instagram terus juga misal di TikTok, apa sih yang lagi hype di TikTok. Dari situ kita bisa simpulin apa yang bisa jadi inovasi baru. Pokonya harus pinter-pinter dalam membaca peluang yang ada,” pungkasnya.