Lebih Parah dari Shopee, Amazon Sering Tersandung Kasus Tindas Pekerja
Shopee
Soal #ShopeeTindasKurir, Kawal Sampai Akhir!
April 14, 2021
Ramadhan
Kunci Sukses Bisnis Ramadhan: Pahami Pola Perilaku Konsumen!
April 21, 2021

Lebih Parah dari Shopee, Amazon Sering Tersandung Kasus Tindas Pekerja

Belum selesai tentang kasus #ShopeeTindasKurir, beberapa saat yang lalu beredar kabar tentang demonstrasi yang dilakukan oleh serikat pekerja restoran KFC pada PT Fast Food Indonesia. Mereka menuntut perusahaan untuk segera mengeluarkan kebijakan pembayaran upah sebagaimana mestinya serta mengembalikan upah yang selama ini ditahan oleh perusahaan.
Serupa dengan kasus Shopee, pihak PT Fast Food Indonesia yang diwakili oleh Justinus Dalimin Juwono selaku Direktur perusahaaan membantah adanya demonstrasi dari serikat pekerja dari Fast Food Indonesia. Ia menegaskan yang melakukan demo tak mewakili serikat pekerja restoran KFC di seluruh Indonesia.
Pihak KFC menegaskan bahwa persoalan kebijakan baru mengenai upah telah dirundingkan dan juga telah menemui kesepakatan dengan serikat pekerja. Sementara itu, SPBI yang melakukan demo di kantor pusat KFC Galael, MT Haryono, menyebutkan mereka merupakan pekerja KFC yang tergabung juga dalam SPBI KFC (SPBI PT Fast Food Indonesia). Mereka menuntut peubahan sistem kerja dan kebijakan upah yang membuat para pekerja berang.
“Itu serikat pekerja lain, yang kita tidak tahu. Kita ada Serikat Pekerja Fast Food Indonesia (SPFFI),” kata Justinus, dikutip dari CNBC. SPFFI merupakan anggota dari Serikat Buruh Perjuangan Indonesia (SPBI).

Bukan hanya Shopee dan KFC

Dalam sebulan peristiwa demontrasi terkait kebijakan upah dan sistem kerja terjadi dua kali. Belum lagi kasus-kasus lain yang tidak ter-cover media. Agaknya kita jadi terbiasa mendengar konflik antara perusahaan dan pekerja terkait kebijakan upah dan sistem kerja yang tidak adil dan terkesan mengeksploitasi pekerja.
Salah satu kasus besar yang sempat mencuat di media adalah demontrasi yang dilakukan oleh pekerja pabrik AICE yang tergabung dalam Serikat Buruh Bumi Manusia Indonesia PT Alpen Food Industry (SGBBI PT AFI) di depan kantor Kementrian Ketenagakerjaan Jakarta Februari tahun lalu.
Sekitar 800 pekerja turun untuk menyampaikan 22 tuntutan kepada perusahaannya. Beberapa diantaranya yaitu mengenai sistem kerja untuk ibu hamil, cuti haid, jaminan kesehatan serta kebijakan upah yang adil. Sebelumnya beredar kabar tentang sistem kerja pekerja pabrik AICE yang tidak adil dengan memperkerjakan ibu hamil di malam hari hingga menyebabkan keguguran, dihilangkannya cuti haid serta jaminan kesehatan dan kecelakaan bagi pekerja yang ikut punah.
Isu mengenai pekerja AICE ini viral hingga menjadi trending topic di media sosial. Netizen Indonesia ramai-ramai menaikkan hashtag #BoikotAice serta #Janganbelieskrimaice untuk membantu pekerja mengajukkan tuntutan dan keadilan pekerja pada perusahaan.

Amazon pun sering tersandung

Sekelas perusahaan terbesar di dunia pun sering tersandung isu kasus kesejahteraan pekerja. Jeff Bezos mantan CEO Amazon yang baru saja menyampaikan pesan terakhir di masa jabatannya pada 15 April lalu, dituding abai terhadap kesejahteraan para pekerjanya. Dikutip dari BBC News, salah satu wakil presidennya mengundurkan diri karena tidak setuju dengan tindakan Amazon yang mengabaikan keselamatan pekerja di masa pandemi virus corona.
Kurang lebih sebanyak 1,3 juta orang di dunia bekerja untuk Amazon. Namun, sayangnya Amazon bukan tempat yang ideal untuk bekerja, khususnya untuk pekerja gudang. Meskipun memang, Amazon merupakan salah satu perusahaan high tech terbesar di dunia. Para pekerja gudang hanya mendapatkan upah sebesar USD 10-12/jam tanpa asuransi kesehatan.
Melansir dari Tirto.id Amazon memberlakukan sistem kerja poin. Di mana pekerja akan diberi poin jika bekerja tidak sesuai ekspektasi. Seperti telat masuk kerja akan diberikan setengah poin, tidak masuk kerja dengan berbagai alasan termasuk sakit, 3 poin serta sejumlah poin untuk kesalahan lain.
Jika pekerja mendapatkan 6 poin, mereka harus siap-siap mendapatkan surat pemecatan dari perusahaan. Tak hanya itu, Amazon seringkali menuduh pekerjanya mencuri barang-barang di gudang hingga mereka memasang CCTV untuk mengawasi para pekerja. Bezos selaku CEO terdahulu juga menolak adanya serikat buruh.
Aturan-aturan yang menyiksa para pekerja tersebut seringkali memicu demontrasi para pekerja kepada perusahaan.

Kasus diskriminatif dan pelecehan seksual

1 Maret 2021 lalu, Amazon digugat di pengadilan federal Amerika Serikat karena mendiskriminasi pekerja perempuan dan orang kulit hitam. Dalam gugatannya, Charlotte Newman pekerja kulit hitam yang menjabat sebagai kepala pengembang bisnis startup di Amazon Web Service, mengaku telah dilecehkan secara seksual dan dipersulit untuk naik jabatan.
Dia juga mengaku telah dibayar rendah saat menjabat sebagai manajer kebijakan publik amazon 4 tahun lalu. Jabatan tersebut biasanya diberikan pada pekerja dengan pangkat lebih tinggi, namun ia dibayar dengan upah lebih rendah dari pada pekerja berkulit putih.
“Amazon memiliki pola diskriminasi sistemik berdasarkan warna kulit dan jenis kelamin yang sulit diatasi".

Charlotte Newman

Dalam gugatan tersebut diungkapkan praktik diksriminasi Amazon, antara lain menempatkan pekerja kulit hitam ke pekerjaan dengan upah lebih rendah di bawah kualifikasi dan keterampilan. Selain itu, mereka juga dipersulit untuk naik jabatan ke posisi yang layak. Sejumlah pekerja kulit hitam di Amazon, terutama divisi layanan cloud, juga mengaku kerap dilecehkan secara fisik, seperti rambut mereka yang suka disentuh atau dikritik karena tidak cukup ramah.
Hal serupa juga dikatakan Linda Burns dan Jacqueline, pekerja di gudang Amazone yang harus sepakat dengan aturan-aturan yang seksis serta aturan-aturan yang mengekang. Mereka mengaku tidak mendapatkan cukup waktu untuk pergi ke kamar mandi, dipaksa untuk memilih antar pekerjaan atau keluarga serta harus terbiasa dengan pelecehan seksual yang mereka alami sehari-hari.
“Untuk perempuan kadang waktu 5 menit tidak cukup untuk ke kamar mandi, apalagi untuk perempuan hamil, mereka membutuhkan waktu yang lebih. Tapi aturan mengharuskan kita untuk pergi dan kembali dalam waktu 5 menit,” ungkap Burns pada More Perfect Union.
Ada banyak kasus pelecehan yang membuat pekerja merasa takut dan cemas. Tidak hanya Newman. Burns, Jacqueline dan banyak pekerja Amazone lain mengharapkan dukungan yang akan menyerukan hak dan kesetaraan untuk mereka.
“So we can have better working conditions, better management, better pay and to be treated like human instead of robot”.

Linda Burns.