Memutus Vicious Cycle untuk Tingkatkan Bisnis Lokal Indonesia

Memutus Vicious Cycle untuk Tingkatkan Bisnis Lokal Indonesia

E-commerce vs Social Commerce, Pilih Mana?
Februari 5, 2021
mencari admin online shop
Tips Mencari Admin Online Shop yang Cocok untuk Bisnis
Februari 12, 2021
Ada yang menarik dari penyelenggaraan The Davos Agenda 2021 World Economic Annual Meeting, akhir Januari lalu. Forum ekonomi dunia yang dihadiri oleh berbagai tokoh dunia ini, membahas secara khusus artikel yang membahas tentang laju ekonomi UMKM Indonesia. Topik utama yang dibahas adalah mengenai laju impor yang naik pesat sehingga berdampak pada lemahnya daya saing produk lokal UMKM Indonesia. Selanjutnya, dalam forum ini dibahas bagaimana cara meningkatkan daya saing produk UMKM Indonesia.
Topik ini dituangkan oleh Evermos, salah satu perusahaan penyedia platform Social Commerce produk muslim Indonesia yang menjadi bagian dari The Davos Agenda 2021. Selain itu, Evermos juga terdaftar sebagai anggota dari Global Innovator di World Economic Forum. Dalam artikel yang ditulisnya, Evermos memaparkan salah satu contoh kasus penurunan produksi akibat produk impor yang berdampak pada kesejahteraan karyawan.

Vicious Cycle

Pak Iyus, salah satu produsen jilbab sempat mengalami puncak kesuksesan pada tahun. Dulu, ia dapat memproduksi 150.000 jilbab setiap harinya. Namun, skala produksi menurun hingga mencapai 80% dan itu sangat berdampak pada tingkat kesejahteraan karyawannya. Salah satu penyebab penurunan adalah karena produk impor yang membanjiri pasaran, bahkan diantaranya terdapat barang yang ilegal. Sementara itu, dalam satu kontainer jilbab impor tersebut bisa memuat 250.000-450.000 jilbab.
Maraknya praktik dagang produk impor, sangat berpengaruh terhadap produsen lokal seperti Iyus. Di tambah lagi, Evermos juga mengamati para produsen asing sedang gencar mencari produk yang diminati di Indonesia. Hanya dalam waktu 6 bulan, produk-produk itu dapat membanjiri pasar lokal dengan tampilan yang serupa tapi memiliki harga lebih murah.
Dengan keadaan seperti itu, para produsen produk lokal harus mampu menyaingi jumlah produksi dalam kurun waktu singkat. Tidak hanya itu, mereka juga harus memutar otak untuk dapat berinovasi agar mendapatkan keuntungan.
Lawan saing asing menggunakan intelejen pemasaran sehingga memberikan unfair advantage yang memperpendek siklus. Oleh karena itu, dengan dengan waktu yang terbatas tanpa perencanaan yang strategis, produsen lokal enggan untuk mengembangkan bisnis agar tidak kalah melawan pesaing secara global. Keadaan ini menciptakan satu vicious cycle yang berdampak fatal di UMKM Indonesia.

Memutus Mata Rantai Vicyous Cycle

Vicious cycle atau lingkaran setan ini membuat produsen lokal enggan untuk berinvestasi jangka menengah hingga jangka panjang. Hal ini berdampak pada turunnya produktivitas dan membuat UMKM kalah saing dengan pebisnis global. Vicious cycle pada tungkat UMKM akan menciptakan vicious cycle jecil lain yang akan berdampak pada tingkat kesejahteraan para pekerjanya.
Akibat produktivitas yang tidak efisien akan mengurangi pendapatan mereka, lalu berdampak pada tingkat pendidikan anak-anaknya. Kemudian, mengakibatkan pekerja generasi berikutnya memiliki keterampilan yang rendah dan kembali berpengaruh pada UMKM.
Dampak yang berkepanjangan inilah, kenapa kita harus mulai membeli produk lokal. Hal ini agar perputaran uang semakin cepat dan membangkitkan perekonomian lokal. Mengutip dari Republika Ajip Tirta, presiden Evermos mengatakan setiap produk lokal yang kita beli akan membantu menghidupkan ekonomi lokal, karena akan banyak orang yang menerima bagian dari apa yang kita belanjakan.
“Di sini kita tidak hanya mengalirkan uang ke pemilik produk saja tapi juga ke vendor-vendor, karyawan, dan pihak relasi lainnya. Kita perlu membuat laju perekonomian terus mengalir . tentu saja kita juga perlu mengingkatkan kualitas dan pengalaman. Di samping itu, agar produsen lokal dapat mencapai ketertinggalan, kita juga harus memberikan mereka kesempatan untuk berjuang,” jelas Ajip.
Selain itu, kita juga harus tahu, sebanyak 97% lapangan pekerjaan di Indonesia diciptakan oleh sektor UMKM yang mayoritas menyerap pekerja dengan keterampilan rendah. UMKM juga menyumbang sampai 60% Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang menunjang kualitas hidup secara massal dan mengentaskan jutaan orang dari kemiskinan.
Peluang untuk memperluas kembali dampak lokal sangat besar. Indonesia memiliki pasar yang besar dan terus berkembang masih butuh lebih banyak produk dengan jumlah dan variasi. Namun sampai sekarang masih belum bisa mewujudkannya.

Lalu bagaimana cara Indonesia dapat meutus Vicious Cycle?

Menurut Arip, pertama-tama kita perlu fokus untuk memutus mata rantai dengan menginspirasi masyarakat untuk mebeli produk lokal “Go Local or go home”. Masyarakat harus mulai membiasakan membeli produk lokal meskipun ada alternated yang lebih murah.
Kedua, mendorong UMKM untuk mulai memikirkan investasi jangka panjangdi tengah persaingan global.
Ketiga, fokus pada keterampilan dan pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan produktivitas.
Keempat, cara terbaik untuk menyerang adalah bertahan. Salah satunya adalah menciptakan kebijakan dagang efektif yang dapat melindungi UMKM dengan pendekatan intelejen pasar yang lebih data-driven.
"Vicious cycle sulit untuk dihentikan, namun peran bersama akan berdampak positif pada kesejahteraan para pekerja UMKM secara khusus, dan Indonesia secara umum," pungkas Ajip.
Oleh karena itu, kita sebagai pelaku usaha harus mampu bertahan dan berjuang mengembangkan usaha yang sedang dirintis. Kita harus mau berinvestasi jangka panjang dan memikirkan manajemen bisnis yang strategis dan efektif untuk bisnis. Jika butuh bantuan, saat ini banyak pihak ketiga atau vendor bisnis yang siap untuk membantu menyukseskan binis brand lokal Indonesia, salah satunya adalah Talkabot
Talkabot dan tim akan membantu pelaku usaha untuk memudahkan para pebisnis menciptakan amazing customer experience agar pelanggan semakin loyal berbelanja di tokomu. Jadi tunggu apalagi yuk segera hubungi Bob!