Meningkatkan Revenue Bisnis dengan Menggunakan WhatsApp
Brand Lokal
Brand Lokal Terkenal yang Dikira Produk Luar Negeri
Maret 21, 2021
Berbisnis
Mindset Opportunis vs Visionist, Mana yang Kamu Pilih dalam Berbisnis?
Maret 30, 2021

Meningkatkan Revenue Bisnis dengan Menggunakan WhatsApp

Menilik dari judul di atas, mungkin kamu mengira artikel ini akan mengarahkan pada pembahasan tentang sistem broadcast, notifikasi atau solusi lain yang sering kamu baca atau denger di media. Jika benar demikian, kamu salah. Kali ini, Bobb mau share cara yang berbeda dari apa yang sering kamu baca dan tentunya akan sangat membantu jika diterapkan dalam bisnis kamu. Penasarankan? Yuk, simak tips dan trik meningkatkan revenue melalui aplikasi WhatsApp di bawah ini:
Pertama-tama, sebelumnya kamu harus tahu dulu, sebagian besar fakta di lapangan menunjukkan bahwa nomor kontak WhatsApp yang dipakai seseorang biasanya sama seperti nomor yang digunakan untuk log in ke Instagram dan Facebook. Dari situ, kita bisa manfaatkan nomor-nomor WhatsApp yang sudah pernah mengirim pesan ke WhatsApp bisnis kita untuk melakukan target ulang (retargeting) serta melakukan look a like audience pada Instagram dan Facebook mereka.
FYI: Lookalike audience adalah teknologi untuk mempelajari dan melihat profile audien berdasarkan buying cycle, behavior, website visit dan jejak digital lainnya untuk menjangkau segmentasi iklan yang spesifik sesuai dengan target pasar yang diinginkan. Lookalike Audience akan membantu untuk menemukan pelanggan potensial dan menawarkan nilai lebih pada saat belanja iklan.
Kalau kamu belum melakukan hal tersebut, Bobb sarankan untuk segera melakukannya. Hal ini sangat efektif untuk menemukan pelanggan ideal yang memungkinkan kamu untuk melakukan penargetan yang lebih spesifik saat belanja iklan. Dengan seperti itu, kamu akan mendapatkan audiens iklan yang berkualitas dan yang paling penting sampai pada target yang tepat. Lebih dari itu, Bobb akan membahas lebih lanjut agar kamu bisa memanfaatkan WhatsApp dan mendapatkan revenue lebih banyak melalui aplikasi messenger tersebut.

Bagaimana sih caranya?

Sebelum masuk ke tips dan triknya, coba deh jawab beberapa pertanyaan di bawah ini:
1. Hari dan tanggal berapa biasanya chat Whatsapp yang masuk terbilang cukup ramai?
2. Berapa banyak dan siapa saja yang menanyakan produk A setiap harinya?
3. Berapa banyak orang yang bertanya tapi tidak jadi beli?
4. Produk apa yang paling sering ditanyakan tapi jarang dibeli?
5. Berapa persen orang yang chat untuk tanya-tanya? Berapa persen untuk yang jadi beli? Berapa persen orang yang chat untuk komplain?
Sebagian besar dari kamu sepertinya sudah punya jawaban meskipun dengan mengira-ngira. Tapi bagaimana jika Bobb bertanya, “Dari mana sumber jawaban tersebut? Bagaimana cara mendapatkanya?”
Bisa dari hasil rekapan chat yang dibuat secara mandiri atau dari laporan customer service yang membuat rekap data setiap harinya. Benar tidak?
Namun, muncul pertanyaan selanjutnya, “Kalau chat yang masuk perhari ada 100-1000, memang kamu yakin customer service bisa rekap data dengan baik?”. Sepertinya agak sulit ya? Membalas chat tepat waktu saja sudah untung. Mana sempet buat rekap data, yang ada customer Service-mu akan kewalahan.

Jadi gimana dong? Adakah solusi yang bisa membantu?

Tentu ada, Bobb mau kasih tahu, ada teknologi yang sudah bisa rekap semua data dengan akurat dan sesuai dengan apa yang diinginkan. Kamu mungkin sudah tidak asing dengan teknologi ini, yup chatbot.
“yahh kok chatbot lagi. Udah B aja chatbot mah gak worth it. Ada juga sih yang bagus tapi mahal,”
Sebagian dari kamu mungkin berpikir demikian. Tapi tunggu dulu, chatbot yang Bobb maksud kali ini, bukan chatbot untuk membalas chat secara otomatis aja. Tapi juga berfungsi untuk extract data percakapan antara pelanggan dan customer service.
Jadi, fungsi chatbot di sini adalah mendengarkan dan mencatat setiap percakapan pelanggan dan customer service, kemudian chatbot akan merekap semua data dan menjadikannya sebagai laporan harian. Perhatikan contoh percakapan di bawah ini:
Pelanggan: “Hallo Min, tanya dong”
Customer service: “Halo juga, ada yang bisa dibantu?”
Pelanggan: “Baju itemnya ready?”
*1 jam kemudian
Customer service: “Ready kak, langsung di beli aja”
*Tidak ada jawaban
Jika kamu mengalami kasus tersebut, ada beberapa kemungkinan terjadi:
  • Pelanggan terlalu lama menunggu jawaban customer service. Saat chat dibalas, pelanggan tersebut sedang sibuk sehingga tidak sempat membalas chat
  • Pelanggan merasa kesal karena tidak kunjung mendapatkan balasan. Akhirnya dia pindah ke toko lain
  • Pelanggan sudah membaca pesan tapi dia berpikir ulang dan tidak jadi membeli karena berbagai alasan
Lantas, apa yang akan kamu lakukan? Tentunya kamu enggak akan diem dong? Nah, untuk mengatasinya kamu bisa minta chatbot untuk mengeluarkan laporan seperti ini:
Mengeluarkan data pelanggan yang bertanya tentang “kaos hitam”, tapi tidak jadi membeli
Kamu akan mendapatkan daftar pelanggan yang bertanya “kaos hitam” berupa nama dan nomor WhatsApp mereka
Kamu ambil nomor WhatsApp dan masukkan mereka ke dalam target ads di Instagram dan Facebook. Jangan lupa untuk melakukan look alike audience
Pikirkan konten ads yang menarik untuk mereka, selanjutnya kamu tinggal nge-ads deh (belanja iklan).
Cara tersebut bisa menjangkau orang-orang yang mirip dengan pelanggan kamu saat ini. Mereka akan mendapatkan iklan yang sesuai dengan produk yang diinginkan secara berkali-kali hingga akhirnya penasaran dan memutuskan untuk membeli produk itu kembali.
Dengan begitu kamu bisa menghemat harga ads karena chatbot sudah membantumu untuk menganalisa chat yang masuk untuk menemukan pelanggan potensial. Cara ini tentunya lebih efisien dibandingkan dengan membuat ads yang sangat spesifik di Instagram atau Facebook karena harganya akan lebih mahal.
Gimana? Apakah kamu tertarik? Kalau iya, yuk langsung aja chat Bobb untuk bahas lebih lanjut. Kamu juga bisa mengonsultasikan berbagai permasalahan bisnis untuk menciptakan Amazing Customer Experience.