Mindset Opportunis vs Visionist, Mana yang Kamu Pilih dalam Berbisnis?
Meningkatkan Revenue Bisnis dengan Menggunakan WhatsApp
Maret 26, 2021
multitasking
Ketahui Hal Tersembunyi di Balik Kerja Multitasking
April 1, 2021

Mindset Opportunis vs Visionist, Mana yang Kamu Pilih dalam Berbisnis?

Berbisnis
Beberapa saat yang lalu Bobb berselancar di timeline Twitter, mencari-mencari hal yang lagi update sembari mengisi waktu luang. Ada satu thread Twitter yang menarik perhatian dari akun @Strategi_Bisnis. Tweet lama sih, tapi banyak orang yang me-retweeet dan kembali membahas tweet tersebut, karena topiknya masih sangat relevan, apalagi di masa pandemi seperti ini.
Jadi, dalam tweet ini dibahas tentang maraknya bisnis coffee shop atau kafe yang bermunculan di berbagai daerah. Padahal untuk mendirikan satu kafe saja modalnya membutuhkan ratusan juta. Sementara itu, pada faktanya enggak semua kafe bisa bertahan lama. Lantas, kalau bisnis tidak berjalan lancar dan pemilik menyerah, modal akan hilang begitu saja.
“Sebaiknya, diperlukan prediksi yang cermat terhadap potensi pasar dan jangan over confidence,” tulisnya dalam tweet.
Tweet ini muncul pada akhir tahun 2019, pemilik akun me-recall tweet tersebut, karena banyak usaha coffee shop tutup di masa pandemi. Bahkan sekelas kafe ternama seperti Starbucks dan beberapa kafe besar di mall juga tutup.
Di sisi lain, banyak juga netizen yang berkomentar bahwa pertumbuhan bisnis coffee shop dan restoran di daerah mulai naik kembali, setiap minggu ada aja coffee shop yang baru launching. Sebagian lagi mengeluh, karena bukan hanya usaha kafe saja yang menurun usaha yang sedang digelutinya juga mengalami penurunan yang bisa dibilang anjlok karena pandemi.

2 Tipe Mindset dalam Berbisnis

Dari sini Bobb jadi ingat teman-teman Bobb yang sebelumnya pernah berbincang membahas tentang awal mula berbisnis. Nah, Bobb coba ambil dua mindset tentang membangun sebuah bisnis:
  • Opportunis: Membangun bisnis berdasarkan peluang dan modal niat, kalau bisa sekarang yang kenapa enggak?
  • Visionist : Bener-bener dipikirin dari mulai modal sampai rencana jangka panjang. Di sini pebisnis mengawali dengan sebuah business plan yang sudah disusun sedemikian rupa.

Opportunis: Membangun Bisnis Berdasarkan Niat dan Mengandalkan Peluang

Persepektif pertama umumnya dilaksanakan oleh pebisnis dengan usaha yang tidak membutuhkan modal besar. Contohnya, seperti Ugi Nugraha, owner bisnis kuliner Ayam Geprek Masugi yang memulai usaha dari nol. Ia mengandalkan modal seadanya dan memanfaatkan peralatan di rumah sebagai pelengkap. Sementara itu, untuk pemasarannya, Ugi menjadikan media sosial sebagai ujung tombak bisnis. Di mana seluruh interaksi dengan pelanggan akan dilakukan melalui media sosial termasuk saat melakukan delivery makanan.
Menurut Ugi, inti dari bisnis adalah segera mulai, bergerak cepat dan manfaatkan peluang. Jangan takut untuk gaga! Lihat berbagai peluang di sekitar dan ambil celah yang bisa kamu manfaatkan untuk membangun bisnis yang berbeda. Buat inovasi terbaru untuk mengisi kekurangan-kekurangan yang ada pada kompetitor bisnis, misalnya dengan mengadakan varian yang berbeda, modifikasi dan lain sebagainya
“Intinya mau apapun bisnisnya manfaatkan peluang yang kamu miliki dan jangan lupa untuk konsisten. Bisnis itu memulainya gampang, menaikkanya gampang tapi menstabilkannya yang susah,”

Ugi Nugraha

Hal yang sama juga disampaikan oleh Ananda Oktanevalda, owner dari @scarfby.lava. Berawal dari sebuah keisengan untuk mengisi waktu luang, Nanda dan rekannya mendirikan bisnis online Scarf by Lava. Didukung pula oleh kemudahan teknologi dalam berjualan, ia mengaku ingin memanfaatkan tren berbelanja online dengan berbagai platform yang sudah banyak tersedia.
“Aku coba berbisnis karena emang udah disediain wadah yang gampang dan simpel. Gak ada salahnya buat kita coba. Dibanding kita mengeluh mending memanfaatkan fasilitas yang ada.” ujar Nanda.
Menurutnya, sebagai pemula kita harus banyak mencari kesempatan dan peluang. Seperti yang dilakukannya, media sosial sekarang sudah menjadi sebuah kebutuhan. Oleh karena itu, enggak salah kalau kita memanfaatkannya untuk berbagai hal termasuk untuk belajar bisnis.
“Sosial media sekarang udah jadi kebutuhan kita. Kita harus bisa baca peluang. Kaya di Instagram, apa sih yang lagi orang butuhin di Instagram terus juga misal di TikTok, apa sih yang lagi hype di TikTok. Dari situ kita bisa simpulin apa yang bisa jadi inovasi baru. Pokonya harus pinter-pinter dalam membaca peluang yang ada,” pungkasnya.

Ananda Oktanavelda

Lantas, Bagaimana untuk Mindset Kedua?

Memulai bisnis dengan business plan yang benar-benar matang. Tentu saja menurut Bobb hal ini sangatalah benar. Semua hal harus dipikirkan, kalau bisa seluruh aspek dianalisis mulai dari kelebihan, kekurangan, peluang dan juga ancaman. Lalu, kita harus bisa mengisi semua dengan solusi dan perencanaan yang matang sehingga kalau ada masalah di depan kita sudah benar-benar siap untuk mengatasinya. Intinya siap materi dan juga siap mental untuk berbisnis.
Seperti yang dikatakan oleh @Strategic_Bisnis, semua harus dipikirin mulai prediksi pendapatan, pengeluaran, inovasi serta berbagai rencana agar bisnis dapat berkembang. Apalagi yang dibicarakan adalah bisnis coffee shop yang mebutuhkan sewa tempat dengan anggaran yang tidak sedikit. Semua harus dihitung secara rasional, yups Bobb setuju.
Peluang memang penting, tapi pebisnis juga harus mempunyai strategi agar bisnis tersebut dapat menghasilkan keuntungan bukan malah merugi. Hal yang paling penting untuk diperhatikan adalah pebisnis harus bisa mempertahankan eksistensi dan bersaing dengan kompetitar. Selanjutnya pebisnis juga harus bisa beradaptasi dengan berbagai pembaharuan berdasarkan tren yang akan datang.
Jadi kamu ada di pihak mana? Mindset 1, 2 atau mungkin keduanya? .
Untuk artikel lain mengenai berita Social Commerce dapat diakses di sini