Soal Seller Asing Bunuh UMKM Lokal, Begini Penjelasannya
Omnichannel
Omnichannel: Satukan Banyak Aplikasi Chat dalam Satu Tempat
Maret 4, 2021
UMKM Indonesia
Prediksi Gojek Soal UMKM Indonesia di Tahun 2021
Maret 11, 2021

Soal Seller Asing Bunuh UMKM Lokal, Begini Penjelasannya

Seller Asing Bunuh UMKM

Seller Asing Bunuh UMKM

Belakangan hashtag e-commerce bunuh UMKM serta pembahasan tentang produk impor yang menguasai pasar Indonesia menjadi perbincangan hangat di media sosial. Hal ini berawal dari riuh percakapan sejumlah pengguna Twitter yang membahas tentang seller atau pengguna Shopee yang bernama Mr. Hu.
Netizen mengungkapkan sudah sejak lama penasaran akan sosok Mr. Hu ini. Pasalnya, setiap membeli barang dari Tiongkok, nama dan alamat pengirim selalu sama yaitu atas nama Mr. Hu. Beberapa netizen bahkan menunjukkan berbagai bukti pengiriman barang yang dibelinya dari pengguna Shopee tersebut.
Isu ini, semakin melebar ketika para influencer mulai tertarik membahas sosok Mr. Hu. Mereka mempertanyakan siapa sosok Mr. Hu dan mengapa konsumen Indonesia seringkali membeli barang eceran bahkan grosir dari Mr. Hu. Selain itu, netizen juga menyimpulkan keberadaan seller seperti Mr. Hu akan membahayakan UMKM di Indonesia.
Salah satu faktor penyebab yang paling kuat adalah karena mereka selalu memasang harga yang terlampau murah. Begitupun dengan tarif ongkos kirim yang terbilang murah atau sama dengan yang ditetapkan dengan tarif ongkos kirim saat membeli barang di dalam negeri.

Tanggapan Pihak E-commerce vs Pengamat dan Data Pemerintah

Beberapa lakon e-commerce sudah memberikan klarifikasi dengan memberikan sejumlah data bahwa pernyataan e-commerce Indonesia dikuasai pihak asing adalah tidak benar. Merilis dari Katadata perwakilan Shopee Indonesia menegaskan bahwa 98,1% dari 4 juta penjual aktif di platform Shopee adalah UMKM. Terhitung hanya 0,1% merupakan pedagang lintas negara.
Dengan pernyataan tersebut, penjual lokal masih mendominasi Shopee. Secara rincinya, penjualan UMKM dalam ekosistem sebear 71,4%, lintas negara sebanyak 3% dan sisanya adalah pedagang lokal yang sudah mempunyai pasar yang besar. Sementara itu, Tokopedia mengatakan hampir seluruhnya dari 9,9 juta mitra penjual merupakan UMKM.
Hal ini juga didukung oleh pendapat dari Asosiasi E-Commerce Indonesia (idea) yang membantah bahwa produk impor meguasai marketplace di Indonesia. Mereka menyebutkan barang perpaket yang penjualnya merupakan pedagang asing hanya berjumlah 0,42%.
Akan tetapi, para ekonom dan peneliti berpendapat bahwa pangsa produk lokal di e-commerce hanya beberapa persen saja. Mengingat banyaknya reseller yang menjual barang impor, meski terhitung sebagai pedagang lokal.
Hal ini juga didukung dengan adanya data dari Kementrian Perindustrian pada tahun 2019 yang menyatakan bahwa 90% produk yang dijual e-commerce merupakan barang impor. Hal serupa juga disampaikan Kementrian Perdagangan pada tahun 2018.
Mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio pada Oktober tahun lalu, sempat mengeluhkan sulitnya mendorong konsumen Indonesia untuk memakai produk busana lokal.
“Kuliner upayanya tidak terlalu berat. Kalau kriya dan fashion, warga Indonesia masih suka produk luar negeri,”

Wishnutama Kusubandio (Dikutip dari Katadata)

Mencari Solusi yang Tepat

Desakan berbagai pihak sudah digaungkan untuk membantu mengatasi permasalahan UMKM Indonesia. Tindakan tegas juga mulai dilakukan oleh Menteri Koperasi dan UKM (MenKopUKM) Teten Masduki yang berencana akan memanggil Shopee terkait masalah barang impor dari Tiongkok.
Sementara itu, mengutip dari jpnn.com anggota Komisi VI DPR RI Mufti Anam meminta pemerintah untuk mengambil langkah terintegrasi terhadap serbuan produk impor murah. Hal ini karena dampaknya cukup fatal untuk UMKM. Setidaknya ada 3 cara yang ia tawarkan untuk mengatasi masalah ini:
Penerapan aturan perdagangan melalui sistem elektronik (PMSE) secara komprehensif. Pemerintah harus mampu mendesak e-commerce atau marketplace untuk patuh terhadap aturan PMSE
Peningkatan daya saing UMKM dengan pedagang asing di e-commerce. Kreasi produk lokal harus mampu bersaing dengan produk asing, begitupun dengan penerapan teknologi, manajemen bisnis modern, digitalisasi sampai pada efisiensi sistem logistik. Mufti mengatakan salah satu yang membuat daya saing kalah adalah soal logistik. Pedagang asing seringkali memberikan ongkos kirim lebih murah dari pada UMKM dalam negeri.
Membangun keberpihakan kepada UMKM lokal. Misalnya, para lakon e-commerce harus memberikan porsi lebih pada UMKM. Terapkan pembatasan terhadap produk cross border (produk lintas negara).
Terakhir, Presiden Jokowi juga mengendus praktik ketidakadilan dalam pasar digital yang bisa membunuh UMKM. Ia berpendapat perdagangan digital harus meningkatkan Tingkat Komponen dalam Negeri (TKDN). Kemudian, perdagangan digital juga harus memberikan manfaat yang adil terutama bagi UMKM dan para pengusaha rumah tangga.
“Jangan hanya menambah impor,” ujarnya.
Jokowi berharap masyarakat bisa menjadi konsumen yang loyal untuk produk dalam negeri. Dengan begitu, penjualan dari produsen lokal bisa meningkat ke depannya.
Untuk artikel lain terkait isu bisnis lokal dan pedagang asing bisa diakses di sini. Talkabot juga menyediakan berbagai artikel tips dan trik berkaitan dengan bisnis digital untuk membantu memudahkan bisnismu klik di sini.