Soal #ShopeeTindasKurir, Kawal Sampai Akhir!
Omnichannel
Begini Cara Memaksimalkan Media Sosial untuk Bisnis
April 10, 2021
Lebih Parah dari Shopee, Amazon Sering Tersandung Kasus Tindas Pekerja
April 17, 2021

Soal #ShopeeTindasKurir, Kawal Sampai Akhir!

Shopee
Perbincangan soal #ShopeeTindasKurir nampaknya masih memanas dikalangan netizen Indonesia. Pihak Shopee pun terus berusaha melakukan pembelaan atas tuduhan-tuduhan yang disampaikan kepada mereka melalui media massa. Sementara itu, netizen juga enggan menyerah begitu saja. Mereka semakin ganas menggali dan membahas lebih dalam permasalahan mengenai ekploitasi kurir dan ketidakadilan Shopee terhadap mitra dan penggunanya.

Buat yang belum tahu, Bobb kasih tahu dulu akar permasalahannya.

Berawal dari cuitan salah satu pengguna akun Twitter mengenai paketnya yang tidak kunjung sampai. Ia mengirim pesan pada salah satu kurir dari Shopee Express. Berikut isi pesannya:
Respon serupa disampaikan oleh puluhan netizen yang mengalami masalah yang sama. Peketnya tertahan di tempat sortir setelah berhari-hari dikirimkan oleh penjual. Mereka semakin bertanya-tanya setelah salah satu mantan kurir menyerukan keluhannya terhadap waktu dan upah kerja mereka.
Tidak hanya itu, netizen juga mengeluhkan permasalahan biaya admin yang terus meningkat secara berkala. Hal ini, kerap kali menyulitkan penjual dalam menentukan harga karena pembeli tidak mau tahu mengenai biaya admin dan sebagainya. Mereka hanya ingin harga stabil dan permintaannya terpenuhi.
"Ekspedisi pengiriman kebanyakan diambil alih oleh Shopee Express, biaya admin penjual naik terus. Wajarkah upah kurir turun? Ini penindasan namanya!"
Di sisi lain di tengah pembicaraan buruk yang berhembus. Shopee malah terus mengadakan giveaway ponsel terkini, lalu menaikkan konten brand ambassador baru mereka dengan embel-embel penggunaan hashtag sebagai syarat giveaway. Hal ini semakin membuat netizen marah.

"Bukannya klarifikasi, malah pengalihan isu," katanya.

Wah-wah, Bobb juga ikutan gedeg sama mereka. Liat aja, pas lagi panas-panasnya mereka seolah-olah bikin hashtag tandingan. Akhirnya topik utama yang lagi dibahas kalah sama hashtag giveaway. Apalagi setelah membaca berita yang merespon trending topic mengenai eksploitasi pekerja. Seakan tak peduli mereka melakukan pembelaan dan mengaku telah memberikan upah sewajarnya kepada kurir.
"Skema insentif yang ditentukan telah mengikuti tingkat harga yang berlaku di pasar dan dipastikan selalu sesuai dengan peraturan yang berlaku," ujar Executive Director Shopee Indonesia, Handhika Jahja, dikutip dari detik.com
Menurut Handhika, sampai saat ini tidak ada aksi demonstrasi yang dilakukan oleh mitra pengemudi Shopee Express (SPX). Shopee selalu mendengarkan masukan dan aspirasi mitra pengemudi SPX, dan terus berupaya untuk menjaga kenyamanan dan semua pihak guna mendapatkan titik temu terbaik antara permintaan pengguna dan ketersediaan mitra SPX.

Terus gimana soal keluhan yang bertebaran di kolom komentar? Gimana sama cuitan kurir yang coba berani menyuarakan aspirasinya mengenai masalah ini? Omong kosong?

Berbeda dari media massa nasional, dirilis oleh Delapan.com, sejumlah mitra dari Shopee Express mengeluhkan aturan baru yang dirilis oleh pihak manajemen SPX. Sebelumnya pihak dari mitra sudah melakukan negosiasi kepada manajemen PT. Shopee International Indonesia, tapi belum menemukan titik temu. Oleh karena itu, diadakan aksi demo dari para mitra SPX berupa offbid masal atau mogok kerja dengan 10 tuntutan yang diajukkan. (Bisa sibaca di sini)
Sayangnya, di sini pihak media massa seakan-akan seperti meng-cover permasalahn Shopee dengan pernyataan yang berat sebelah. Semua seakan selesai begitu saja, setelah pihak Shopee memberikan statement tentang masalah ini. Padahal menurut Bobb, media massa seharusnya bisa menjembatani pihak mitra dan Shopee.
Media menjadi salah satu corong yang memungkinkan keduanya menemui titik terang, agar masalah bisa terselesaikan secara adil. Sebagai contoh, mereka bisa menjadikan masalah ini sebagai satu topik investigasi utuh yang tidak berat sebelah. Menelusuri bagaimana sistem kerja yang sebenarnya di lapangan, menampung aspirasi mitra Shopee khususnya kurir dan driver. Lalu, berusaha meminta transparansi dari pihak Shopee. Media juga bisa bertanya pada ahli mengenai solusi dari permasalahan ini sehingga bisa dibantu penyelesaian masalah melalui jalur-jalur yang sudah sesuai dengan aturan dan hukum yang benar.

Pemangkasan Upah, Mogok Kerja dan Pro-Kontra Netizen

Dilansir dari Tirto.id, para kurir melakukan mogok kerja diduga karena adanya penurunan upah. Hal ini juga dijelaskan dalam thread yang ditulis oleh akun @arifnovianto_id. Jika dihitung-hitung kurir amat sangat dirugikan, apalagi mereka tidak mendapatkan upah minimum dan jaminan sosial.
“Jika upah mereka diturunkan jadi 1.500 setiap paket yang mereka kirim ke konsumen, maka kondisi kerja mereka akan semakin berat. Rata-rata 1 paket diantar ke konsumen itu membutuhkan waktu 10 menit, jadi anggap saja 6 paket/jam. 8 jam= 48 paket = 72.000. Motor & bensin dari driver,” tulis Arif di akun twitternya @arifnovianto_id.
Menurut Arif, 10 menit itu, untuk jarak paket dengan letak penerima yang berdekatan. Jika alamat penerima berjauhan, buth sekitar 30 menit/paket. Belum lagi harus menghubungi penerima yang kadang tidak di rumah atau alamatnya salah. Jumlah paket yang harus dikirim kurir dalam sistem kerja di Shopee Ekspress diatur oleh ketua tim di tiap kecamatan. Jika paket menumpuk apalagi saat event promo gratis ongkir atau tanggal kembar. Maka setiap kurir bisa mengirimkan 125 paket/hari. Hal ini mengharuskan mereka kerja lebih dari 14 jam.
Pemogokan ditempuh oleh Himpunan Driver untuk menuntut manajemen Shopee memberikan kerja layak ke rider Shopee Ekspess. Arif berpendapat terdapat 1.000 kurir yang mogok dan mayoritas memilih mengundurkan diri. Para kurir Shopee Express sebenarnya ialah mitra namun dipekerjakan seolah pekerja formal oleh pihak perusahaan.
"Kurir dikenakan pola kerja regu waktu (shift) dan memiliki jumlah target pengiriman paket. Status "mitra" diberikan sebagai cara perusahaan untuk menghindari pemberian upah sesuai UMR, jam kerja 8 jam perhari, hak libur, pesangon, jaminan kesehatan, upah lembur dan lain-lain kepada karyawan," imbuh Arif.

Tanggapan Netizen

Menanggapi masalah ini, tidak sedikit orang yang menentang Shopee dan mendukung para driver/kurir Shopee hingga tagar #ShopeeTindasKurir jadi trending nomor 1 Twitter. Namun, tak sedikit pula orang yang mempermasalahkan tindakan mogok kerja dari para kurir. Hmmmm, sorry menurut Bobb mereka aneh!!!
Entah mereka benar-benar memahami situasi atau enggak, tapi menganggap ini sebagai sesuatu yang harus disyukuri dan diterima aja, jadi satu hal yang keterlaluan. Apatis. Sudahkah mereka benar-benar tahu kondisinya di lapangan? Seperti salah satu komen yang Bobb highlight dari akun TikTok @riogndhi. di bawah ini:
Dalam video pendek TikTok-nya pertama-tama dia menyatakan kalau dia sebenernya enggak tahu mengenai kondisi internal Shopee. Tapi di sini dia ingin berpendapat. Menurutnya, meskipun ada penurunan upah, kurir harusnya bisa bersyukur. Setidaknya mereka punya pekerjaan dalam kondisi serba sulit di masa pandemi ini. Lalu, Shopee juga sudah baik kerena telah membuka lapangan pekerjaan yang cukup bagus dan bisa memberikan pekerjaan pada pengangguran.
Komentar serupa juga disampaikan Christian Cahyo dalam salah satu artikel Kumparan. "Halah.. Kalian itu baru gitu aja dibuat drama.Cek tuh kalau perlu survey kurir ekpedisi lain/mitra yg lain gimana. Syukur itu 1.350/2.000 per paket dikali aja tuh bawa 100 paket udah berapa pendapatan? Cek ekpedisi lain yg cma 60rb/80rb sehari tanpa insentif. Kalian cuma drama kurang bersyukur aja," tulisnya.
Melihat dan membaca kedua komentar tersebut, Bobb bener-bener marah. Hal yang harus ditekankan di sini adalah penurunan upah yang menyebabkan pendapatan mereka turun sekitar 30%. Untuk mendapatkan upah seperti semula mereka harus bekerja 3 kali lipat. Kerja normal aja biasanya bisa berjam-jam, gimana sekarang? Kalau dasarnya udah ditindas, apa yang harus disyukuri? Mungkin juga ke depannya si perusahaan oren ini semakin semena-mena. Mau turun berapa lagi kalau pekerja nerima aja? Jadi 1000 atau bahkan 500 per paket?
Jangan hanya karena "butuh", perusahaan bisa semena-mena ke pekerjanya. Kalau hal ini dibiarkan saja, lama kelamaan kasus serupa bakal banyak terjadi. Kerja berlebihan dan upah minimum akan terus bergandengan, sehingga menjadi titel bagi pekerja utamanya yang sedang membutuhkan.
Lalu, mengenai perbandingan dengan ekspedisi lain. Bobb, bener-bener gak paham. Terus kalau ekspedisi sebelah memiliki upah yang sama dan waktu kerja yang sama, apa bisa dikatakan wajar? Justru itu yang harus digali. Adilkah jika kurir digaji dengan upah demikian? Sepadankah dengan tenaga dan waktu kerjanya? Jika tidak wajar, berarti ada yang salah dengan sistem kerja perusahaan ekspedisi di Indonesia. Jangan hanya disyukuri dan diterima saja.
Menurut Bobb, dengan banyaknya netizen yang bersuara mengenai hal ini, sedikitnya akan membantu para pekerja yang berjuang di sana.

Duh Shopee, Shopee... Ngaku penghasilan meningkat 5 kali lipat, brand ambassador ganti-ganti tiap bulan, nyewa artis Korea lagi. Tapi upah kurir dikurangi, biaya admin naik, Teoppoki? Eh salah, piye to iki???

Untuk artikel lain dari Talkabot, bisa diakses di sini