Tips Membuat Konten Story Telling untuk Menarik Pelanggan di Media Sosial
Story Telling, Rahasia promosi S3 Marketing
September 8, 2021
Copywriting Ampuh
Hipnotis Pelangganmu dengan Copywriting Psiklologi Priming
September 23, 2021

Tips Membuat Konten Story Telling untuk Menarik Pelanggan di Media Sosial

Siapa yang di sini yang seneng scroll-scroll media sosial? Apapun itu, mau Instagram, Twitter, Facebook atau mungkin scroll status WhatsApp teman? Coba deh pikirin, konten apa yang biasa bikin kamu berhenti scroll dan memutuskan buat menikmati konten tersebut.
Apa hayoo??
Bobb yakin kebanyakan dari kamu enggak nyebutin konten jualan dalam artian, kurang suka sama konten dengan caption atau copy yang hard selling banget. Isinya cuma nyuruh-nyuruh audiens buat beli, tapi isi kontennya bener-bener gak meyakinkan. Kaya gini nih contohnya:
  • “Dijual rumah 2 lantai, halaman luas, tempat strategis harga murah. Segera hubungi: 081xxx”
  • “Dijamin turun 5 kg dalam seminggu, buruan beli suplemen penurun berat badan”
  • “Kemeja trendy, super nyaman anti gerah. Dibuat dari bahan terbaik di Indonesia. Untuk order, klik link di bio”
BIG NO NO!. Begitu liat konten kaya gitu, kebanyakan orang biasanya bakal langsung scroll. Apalagi kalau gambarnya enggak menarik. Kecuali emang kalau lagi butuh, itupun dengan berbagai pertimbangan sampai menuju ke konversi penjualan.
Terus kalau udah males sama konten, boro-boro di klik profile-nya, inget aja enggak sama nama akunnya. Di situlah pebisnis akan kehilangan perhatian atau attention dari audiens. Kalau udah kehilangan perhatian, gimana caranya mau ngenalin dan jual produk? Mereka aja udah gak peduli sama bisnis kamu..
Terus kalau udah males sama konten, boro-boro di klik profile-nya, inget aja enggak sama nama akunnya. Di situlah pebisnis akan kehilangan perhatian atau attention dari audiens. Kalau udah kehilangan perhatian, gimana caranya mau ngenalin dan jual produk? Mereka aja udah gak peduli sama bisnis kamu.
Terus gimana dong Bobb?
Sebenernya, kamu boleh sih, nulis copy yang kaya gitu tapi sesekali aja. Pas pelanggan udah mulai naruh perhatian sama bisnis kamu atau dalam keadaan warm dan hot market. Terus inget jangan overclaim ya. Terus, sebagai copywriter, kamu juga harus bisa memilih kata-kata yang tepat agar konten jualan kamu terlihat lebih baik dan tentunya menarik, dibandingkan 3 contoh copy di atas.
Lanjut ke pembahasan, menurut Dewa Eka Parayoga seorang business coach dan digital marketing expert mengatakan, konten yang sering dinikmatin oleh audiens adalah konten yang bergaya cerita atau story telling. Ia juga menyebutkan, salah satu alasan orang bermedia sosial adalah untuk kepo dan saat seseorang bercerita, ia akan memancing rasa ingin tahu audiens akan cerita tersebut. Setelah tertarik. mereka akan cenderung menikmati konten tersebut.
"Tidak hanya itu, sebuah fakta menunjukan bahwa ternyata cerita 22 kali lebih diingat dari pada data, angka dan fakta"

Dewa Eka Prayoga

Nah, makanya, kamu harus banget belajar cara membuat story telling untuk berjualan di media sosial. Bobb juga udah nyebutin seberapa pentingnya story telling buat bisnis kamu sebelumnya. Nah, dari pada basa-basi mulu, yuk langsung aja simak, hal-hal apa aja yang harus kamu perhatikan saat menulis story telling untuk jualan:

Pastikan cerita yang kamu buat benar-benar relate dengan target pasar kamu

Bobb selalu ingetin, tentuin target pasar kamu sebelum menulis copy. Begitupun dengan menulis story telling, pastikan cerita yang akan kamu tulis relate atau berhubungan dekat dengan target pasar kamu. Buat cerita yang menarik dan sering dialami oleh kebanyakan orang termasuk oleh kamu sendiri.
Bobb selalu ingetin, tentuin target pasar kamu sebelum menulis copy. Begitupun dengan menulis story telling, pastikan cerita yang akan kamu tulis relate atau berhubungan dekat dengan target pasar kamu. Buat cerita yang menarik dan sering dialami oleh kebanyakan orang termasuk oleh kamu sendiri dan khsususnya untuk target pasar.
"Bukan menceritakan yang jauh-jauh, relate dengan pembaca. Jangan gunakan cerita yang terlalu jadul atau lebay. Gunakan cerita sehari-hari yang memang sering dialami," jelas Kang Dewa.
Contoh kalau kamu jualan jilbab buat anak muda yang sering beraktivitas di luar, story telling-nya bisa banget kaya gini:
"Dari pagi sampai siang kuliah padat banget di dalam ruangan lagi. Banyak yang ngeluh kegerahan, apalagi teman-teman aku yang berkerudung. Tapi untung banget pake kerudung yang bahannya adem banget. Terus gak gampang kusut, mudah dibentuk lagi. Jadi pas lagi belajar, gak ribet bener-benerin anti geser-geser.
Terus pas sore kebagian mata kuliah lapangan. Mana cuaca mendung terus gerimis lagi. Tapi kalian harus tahu, lagi-lagi aku diselametin sama kerudung cantik yang satu ini. Beneran anti air loh bahannya, enggak mudah basah. Kirain claim -nya bohong. Ternyata beneran bantu mood-ku yang lagi capek jadi berkurang."
Kamu juga bisa bikin dalam bentuk video suasana tersebut atau disertai gambar menarik. Jangan lupa sertakan call to action juga di gambar atau di copy selanjutnya. Menyesuaikan dengan kebutuhanmu.

Cerita harus update

Cerita yang kamu buat harus memuat unsur kebaruan atau update. Misalnya, memuat topik-topik yang sedang hangat diperbincangkan saat itu atau yang baru aja kamu alamin misalnya, "Kemarin aku baru aja...", "Ceritanya pas Hari Minggu..." dan lain sebagainya. Kenapa harus mengandung unsur kebaruan atau update? Hal ini karena alasan orang bermedia sosial, salah satunya adalah untuk update atau karena pengen update sesuatu. Mengetahui hal-hal yang lagi hangat di media sosial, makanya gunakanlah unsur "update " dalam cerita kamu.
Contohnya kaya iklan suplemen makanan yang satu ini:
"Lagi pandemi kaya gini, harus ekstra jaga kesehatan. Sayangnya, WFH bener-bener ngeribetin banget. Kerjaan numpuk, suntuk lagi gara-gara di rumah terus. Gak ada waktu buat olah raga apalagi dapetin asupan vitamin D. Tapi kemarin-kemarin dapet rekomendasi dari atasan sih, buat beli suplemen x yang ternyata kandungannya bisa buat imun kuat dan gak gampang loyo. Jarang-jarang banget ini, dapet suplemen yang kandungannya lengkap kaya yang aku konsumsi saat ini. Jadi gak khawatir lagi deh!"
Pandemi adalah kejadian yang sedang semua orang alami saat ini dan merupakan satu hal yang update juga ketika dikaitkan dengan kondisi WFH. Nah, jangan lupa, berikan ilustrasi gambar yang menarik, agar audiens semakin tertarik dengan produk yang kamu jual.

Buat cerita yang mengalir

Buat cerita kamu mengalir dan jangan terlalu banyak mikir. Kalau kamu mau nulis cerita, ya langsung tulis aja. Singkirkan pemikiran "Ini bakal bagus atau enggak ya..." atau "Pembaca ngerti enggak ya...". Segeralah tulis apa yang ingin kamu ceritakan, seperti saat kamu cerita langsung ke orang lain. Tugas kamu saat itu adalah bercerita atau menulis cerita, bukan mengedit.
Setelah selesai, kamu bisa memperbaiki sedikit demi sedikit dari mulai redaksi penulisan atau kata-kata yang sekiranya kurang enak dibaca.
"Buat sengalir mungkin, jangan dibuat lebay dan jadilah diri sendiri," pesan Kang Dewa.

Jadilah Otentik

Dalam berbisnis kamu harus bisa membuat bisnismu berbeda dengan orang lain. Jadilah diri sendiri dan jangan pernah meniru orang lain, termasuk dalam bercerita. Sepertu yang udah Bobb sebutin sebelumnya, story telling bisa membuat produkmu berbeda dari kompetitor. Cerita yang kamu tulis bisa membuat produk kamu berbeda dari yang biasanya. Kalau kamu biasa mengggunakan "aku, kamu", "kalian, mereka", atau mungkin bahasa gaul seperti "gue, elo", maka lakukanlah. Pokoknya, buat seakan-akan itu kamu banget.
Kamu bisa juga menggunakan kalimat sapaan khusus yang sering digunakan oleh brand kamu. Hal yang otentik ini akan membuat kamu berbeda di mata audiens dan pelanggan sehingga mereka bisa dengan mudah mengenali brand kamu ke depannya.
Nah, gimana udah paham kan, gimana caranya bikin story telling yang menarik? Kalau ada yang mau ditanyain lagi mengenai bisnis boleh banget hubungi Bobb dengan klik tombol di bawah ini ya!