Tips Menjual Tanpa Nawarin dengan Kepowriting - Talkabot Indonesia
Broadcast
Tips Menulis Pesan Broadcast WhatsApp Ampuh Anti-Banned
Agustus 23, 2021
Cara Menjual yang Ampuh dengan Konsep AIDA
September 3, 2021

Tips Menjual Tanpa Nawarin dengan Kepowriting

Kepowriting
Bobb seringkali denger dari para marketer experts, mereka bilang, “Jangan terlalu bold kalau jualan”. Strategi jualan yang seperti itu, terhitung monoton dan membosankan. Salah satu contohnya, saat kita melihat iklan di media sosial, orang cenderung akan segera scroll ke atas atau ke bawah agar kegiatannya tidak terganggu. Atau mungkin saat menonton Youtube, keluar iklan beberapa detik dan kita akan cenderung klik ”lewati iklan” ketika melihat opsi tersebut, benarkan?
Ya gak salah sih, kalau kaya gini gimana dong Bobb, bikin strategi pemasaran yang ampuh buat bisnis online?
Bobb denger-denger, saat ini lagi in banget nih soal kepowriting. Kepowriting ini merupakan salah satu strategi pemasaran yang ampuh tanpa nawarin, tanpa ngajak apalagi nyuruh buat beli produk yang kamu jual. Strategi ini akan membuat pelanggan datang sendiri kepada bisnis kita karena sebelumnya kita kasih umpan.
Umpannya gimana tuh Bobb?
Pertama kamu harus tahu dulu elemen-elemen penting dalam kepowriting di bawah ini:

1. Pastikan target market kamu sudah tepat dan spesifik

Mungkin kamu udah bosen banget soal poin yang ini, Bobb emang sering banget ngingetin buat mastiin target pasar kamu atau kembali membuat target pasar yang spesifik. Sekali lagi, karena hal ini emang penting banget, pun dalam menerapkan konsep kepowriting ini.
Seperti yang dikatakan oleh Faqih Faturachman, seorang digital market expert dalam TikTok-nya mengatakan, kalau kita mau memancing pelanggan untuk datang, maka kita harus siapkan umpan dan ikan. Umpan yang akan kamu berikan harus sesuai dengan jenis ikan yang akan kamu tangkap,
“Misalnya, saya kasih umpan cacing tapi yang kita tangkap ikan koi. Ngapain saya pancing ikan koi, mending saya tangkap dan genggam saja langsung”
Nah, jadi kita harus tahu, diibaratkan umpan adalah strategi yang berkaitan dengan penjualan dan ikan adalah pelanggan yang akan kamu tangkap. Jadi sebelum kamu menentukan umpan apa yang akan kamu berikan, kamu harus tahu dulu ikan jenis apa yang ingin kamu tangkap.
Hal ini agar kamu tahu, “Apa yang biasanya pelanggan kamu suka? Setelah itu, kamu bisa mulai menyusun cara yang akan dilakukan untuk memberikan umpan kepada pelanggan tersebut? Juga di mana seharusnya umpan tersebut akan diberikan?” dan lain sebagainya.
Contohnya:
Target pasar kamu adalah ibu-ibu, kamu harus membagi lagi ibu-ibu seperti apa yang akan menjadi target pasar. Ibu-ibu muda atau yang sudah lanjut usia. Hal ini karena beda usia beda treatmen yang akan diberikan. Mulai dari channel pemasaran. Ibu-ibu muda lebih sering menggunakan Instagram semantara Ibu-ibu yang lebih senior biasanya, lebih aktif menggunakan Facebook. Begitupun dengan strategi pendekatannya yang tentu saja akan berbeda.
Jadi itulah kenapa target pasar harus spesifik, jangan sampai kamu memberikan umpan yang salah kepada pelanggan sehingga usaha yang dilakukan sia-sia, apalagi jika kamu sudah menggunakan iklan berbayar. Bukan lagi tenaga yang terbuang tapi juga uang.
Tentukan dulu siapa target pasar spesifik bisnis kamu, setelah itu tinggal cari strategi untuk memberikan umpan ke pada mereka.
Selanjutnya, agar kamu lebih paham mengenai target pasar kamu bisa membaginya berdasarkan demografis dan psikografis. Demografis berkaitan dengan kependudukan seperti usia, jenis kelamin, domisili dll dan psikografis berkaitan dengan gaya hidup, kelas sosial serta kepribadian.
Sementara itu, Susan Guneluis dalam artikelnya mengatakan ada beberapa atribut yang bisa kamu gunakan untuk mengembangkan profil pelanggan yaitu, mulai dari jenis kelamin, usia, etnis, status keluarga, pekerjaan, penghasilan, pendidikan, kebiasaan dan lain sebagainya.

2. Berikan value pada produkmu

Setelah mengetahui target pasar sebagai umpan, kamu harus tahu value atau nilai apa yang bisa kamu berikan kepada mereka. Apalagi jiga kamu mengambil keputusan untuk berbisnis di zona red ocean atau dalam zona bisnis yang sudah banyak dilakukan oleh orang lain.
“Apa yang membedakan kamu dengan mereka? Kenapa pelanggan harus datang ke bisnis kamu? Hal apa yang bisa membuat kamu lebih unggul?”
Saat kamu menentukan harga sekian untuk produk yang akan dijual, kamu harus bisa mempertimbangkan value apa yang akan didapatkan oleh pelanggan ketika mereka memutuskan untuk membeli produk kamu dengan harga tersebut.
Contoh:
Harga es jeruk akan lebih murah di warteg dibanding dengan di kafe dengan konsep tertentu. Kenapa? Karena di warteg, value yang diberikan hanya dari es jeruk itu sendiri mungkin juga disertai bentuk pelayanan yang ramah.
Sementara itu, jika kamu membeli es jeruk di kafe dengan berbagai nama yang unik dan konsep sedemikian rupa, bukan hanya dari value kepuasan tampilan saja yang diterima tapi juga value tempatnya. Dengan minum es jeruk di kafe kamu bisa mendapatkan value pelayanan yang baik sekaligus keindahan tempat yang bisa kamu manfaatkan untuk berfoto alias Instagram-able.
Nah, berikanlah velue-value tersebut dan ceritakan pada umpan target pasar atau pelanggan dengan memberikan testimoni seperti berikut:
“Kafe yang kemarin aku datengin enak banget loh tempatnya, tampilan makanannya juga menarik. Bisa ambil foto bagus buat di-upload di Instagram”
Jika value yang didapatkan oleh pelanggan benar-benar menarik, bukan hanya dari mulut satu orang saja, cerita tersebut akan berdatangan dari setiap pengunjung yang datang dan menikmati hidangan di kafe tersebut.

3. Tanamkan persepsi terhadap pelanggan

Kalau sudah nemu value, akan banyak testimoni atau biasa disebut dengan social proof berdatanagn. Hal itu akan memancing persepsi dari orang bahwa bisnis kamu merupakan salah satu yang terbaik sehingga menarik rasa penasaran dari pelanggan yang lain.
Bobb lanjutin buat contoh tadi ya, saat seseorang post foto makanan dan suasana tempat di Instagram dengan komentar yang baik. Akan memungkinkan pengguna Instagram lain tepatnya followers orang tersebut penasaran. Hingga kemudian bertanya “Itu di mana?”, ”Wah estetik banget, di mana tuh?”, “keliatannya enak” dan lain sebagainya.
Persepsi-persepsi itu akan tumbuh, makanya Bobb saranin kamu harus mampu membentuk persepsi terhadap pelanggan. Kamu bisa coba mulai dengan memberikan manfaat dari produk atau jasa. Termasuk juga pelayanan yang akan diberikan oleh bisnismu. Buat target pasarmu penasaran dengan bahasa yang mudah dimengerti dan ingat jangan overclaim.
Bobb selalu ingetin agar kamu selalu memperhatikan copy yang ditulis, sesdekat apapun hubungan kamu dengan pelanggan jangan sampai kamu membohongi mereka dengan claim-claim yang berlebihan.
Misal nih, gara-gara target pasarmu adalah teman satu angkatan sekolah, kamu berbohong pada mereka soal manfaat produk yang tidak bisa didapatkan secara instan dalam produkmu. Hal ini sangat fatal, mereka bisa saja jadi tidak percaya sama bisnis kamu, kemudian memberitahukan hal ini juga pada orang lain. Bukan cuma reputasi bisnismu yang akan dipertaruhkan tapi juga personal branding-mu sebagai pebisnis akan buruk.
Boleh memberikan testimoni sold out, ungkapan syukur atas larisnya bisnis kamu, boleh juga berikan contoh chat kamu dengan pelanggan, asalkan kamu tetap bisa mempertanggung jawabkannya ya.
Selamat mencoba strategi kepowriting, kalau ada yang mau ditanyain cepat hubungi Bobb di bawah ini!